Wednesday, February 01, 2012

Khalifah Umar Bin Abdul Aziz

Amar bin Abdul Aziz lahir pada tahun 63 H. Nama lengkapnya adalah Umar bin Abdul Aziz bin Marwan bin al-Hakam bin al-Ash bin Umayyah bin Abdi Syams. Ibunya adalah Ummu Ashim binti Ashim bin Umar al-Khaththab (yang dikenal dengan julukan Abu Hafhs). Diriwayatkan bahwa ketika Abdul Aziz bin Marwan hendak menikahi Ummu Umar bin Abdil Aziz, ia (Abdul Aziz) berkata kepada pengasuhnya, “Kumpulkanlah untukku empat ratus dinar dari hartaku yang paling bersih, karena aku akan menikahi keluarga yang baik.”

Lalu ia pun menikahi Ummu Umar bin Abdil Aziz. Namanya adalah Ummu Ashim binti Ashim bin Umar bin al-Khaththab. Ashim adalah putra Umar bin al-Khaththab yang menikah dengan seorang pemudi yang menolak menambahkan air pada susu perasan ketika diperintahkan oleh ibunya. Saat itu ia berkata kepada Ibunya, “Jika Umar tidak melihat kita maka Allah pasti melihat kita.”

Hal itu kemudian didengar oleh Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. Lalu beliau memerintahkan salah seorang anaknya, Ashim, untuk menikahi pemudi itu karena sifat amanah yang dia miliki.

Menjadi Khalifah

Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi khalifah pada tahun 99 H, pada hari wafatnya Khalifah Sulaiman bin Abdil Malik. Khalifah Sulaiman telah mewasiatkan Kekhilafahan kepada Umar ketika ia ditimpa sakit demam. Khalifah Sulaiman tidak menemukan orang lain sebagai calon khalifah kecuali Umar bin Abdul Aziz.

Saat Sulaiman wafat dan sudah dikafani, ia dishalatkan dengan diimami oleh Umar. Saat penguburan jenazahnya telah selesai, dibawalah ke hadapan Umar bin Abdil Aziz beberapa tunggangan khas Khilafah, yakni unta dan kuda. Umar berkata, “Apa ini?” Orang-orang menjawab, “Ini adalah kendaraan Khalifah.” Umar berkata, “Jauhkan kendaraan itu dariku. Aku tidak membutuhkannya. Kemarikanlah keledaiku.” Beliau pun menaikinya dan pulang ke rumah dalam keadaan bingung.

Pelayannya berkata, “Tampaknya Anda sedang bingung. Ada apa gerangan?” Umar menjawab, “Aku bingung karena urusan seperti ini (maksudnya Kekhilafahan). Sungguh tidak ada satu umat Muhammad pun di timur dan barat kecuali ia memiliki hak yang wajib aku tunaikan, tanpa harus menunggu ia menyuratiku atau menuntutnya dariku.”

Khutbah Setelah Pengangkatan Sebagai Khalifah

Khulafaur Rasyidin kelima ini masuk masjid, kemudian naik mimbar dan berkata, “Saudara-saudara, aku telah diuji untuk memegang tugas ini tanpa diminta pandangan terlebih dulu, juga bukan karena permintaanku serta tidak dibincangkan bersama dengan umat Islam. Sekarang aku membatalkan baiat yang kalian berikan kepadaku dan pilihlah seorang khalifah yang kalian sukai.”

Namun, orang-orang serentak berkata, “Kami telah memilihmu, wahai Amirul Mukminin, dan kami ridha kepadamu. Karena itu, uruslah urusan kami dengan kebaikan dan keberkahan.”

Khalifah Umar bin Abdul Aziz menyampaikan pujian sanjungan kepada Allah dan membacakan shalawat kepada Nabi saw., lalu berkata, “Aku berwasiat kepada Anda semua untuk bertakwa kepada Allah, karena takwa kepada Allah adalah pengganti segala perkara, dan tidak bisa diganti dengan apapun. Beramallah untuk akhirat karena siapa saja yang beramal untuk akhiratnya maka Allah pasti mencukupi dunianya. Bereskanlah keadaan kalian ketika tidak ada siapa-siapa, niscaya Allah akan membereskan keadaan kalian ketika bersama orang banyak. Ingatlah kematian dan bersiap-siaplah dengan baik (untuk menyambut kematian) sebelum kematian itu benar-benar datang, karena kematian akan menghancurkan segala kenikmatan. Sungguh umat ini tidak akan berselisih karena Rabb-nya,tidak karena Nabi-Nya dan tidak karena Kitab-Nya. Mereka hanya akan berselisih karena dinar dan dirham (harta). Sungguh, demi Allah, aku tidak akan memberikan kebatilan kepada siapapun; aku tidak akan menghalangi kebenaran dari siapapun.”

Lalu beliau meninggikan suaranya, “Saudara-saudara, siapa saja yang taat kepada Allah wajib ditaati. Siapa saja yang maksiat kepada Allah tidak boleh ditaati. Karena itu, taatilah aku selama aku taat kepada Allah. Jika aku maksiat kepada Allah, Anda semua tidak wajib taat kepadaku.”

Kemudian Khalifah Umar masuk ke Istana. Ia memerintahkan agar semua hiasan Istana ditanggalkan. Baju-baju kebesaran Khalifah ia jual dan hasil penjualannya dimasukkan ke Baitul Mal. Ia memerintahkan agar diumumkan kepada khalayak: Siapa saja yang telah dizalimi hendaklah melaporkannya. Umar tidak membiarkan sedikitpun kekayaan yang ada pada kekuasaan Sulaiman dan apa yang ada di tangan orang-orang yang zalim kecuali ia kembalikan kepada pihak-pihak yang terzalimi. Masyarakat pun merasa senang dengan kepemimpinannya.

Diceritakan bahwa ketika Khalifah Umar bin Abdul Aziz selesai berpidato, ia masuk ke dalam rumah untuk beristirahat tidur siang sebentar. Tiba-tiba datanglah putranya, Abdul Malik. Ia bertanya-tanya keheranan, “Amirul Mukminin, apa yang akan Anda lakukan?” Khalifah Umar berkata, “Anakku, Ayah ingin beristirahat tidur siang sebentar.” Abdul Malik berkata, “Apakah Ayah akan tidur, sementara Ayah belum mengembalikan hak-hak orang-orang yang terzalimi?” Khalifah Umar kembali berkata, “Anakku, tadi malam ayah tidak tidur di rumah pamanmu, Sulaiman. Sebentar lagi, jika Ayah sudah shalat zuhur, ayah akan mengembalikan hak-hak orang yang terzalimi.” Sang anak berkata, “Amirul Mukminin, apakah Anda bisa menjamin bahwa Anda bisa hidup sampai waktu zuhur?” Khalifah Umar bin Abdul Aziz pun berkata, “Mendekatlah, anakku sayang.” Abdul Malik pun mendekat. Kemudian Khalifah Umar memeluknya dan mencium keningnya seraya berkata, “Segala pujian hanya milik Allah yang telah mengeluarkan dari tulang rusukku keturunan yang menjadi penolongku dalam menjalankan agama.”

Pemimpin yang Adil

Ali bin Husain berkata, “Khulafa al-Mahdiyyin ada tujuh orang; 5 orang telah berlalu dan tersisa dua orang lagi. Mereka adalah: Abu Bakar, Umar bin al-Khaththab, Ustman, Ali dan Umar bin Abdul Aziz.”

Ahmad bin Hanbal berkata, “Allah akan membangunkan bagi manusia pada setiap seratus tahun orang yang memperbaiki agama bagi umat ini. Kami melihat pada seratus tahun pertama ada Umar bin Abdul Aziz. Pada seratus tahun kedua ada Imam Syafii.”

Khalifah Umar bin Abdil Aziz adalah seorang pemimpin yang adil. Masyarakat pun merasakan keadilan ini. Umar pernah berkata kepada rakyatnya, “Pulanglah ke negeri kalian. Aku bisa melupakan kalian di sini. Sungguh aku telah mengangkat para kepala daerah untuk kalian. Aku tidak mengatakan bahwa mereka adalah yang terbaik. Siapa saja yang dizalimi oleh kepala daerahku maka aku tidak akan mengizinkannya kecuali aku melihat kezalimannya. Demi Allah, jika aku dan keluargaku menghalangi harta ini, kemudian aku menghalanginya dari kalian, maka sungguh aku pasti termasuk orang yang kikir. Demi Allah, andai saja aku tidak hidup sesuai dengan Sunnah dan tidak menjalankan kebenaran, maka pasti aku mencintai keluhuran (aku akan bermegah-megahan).”

Khalifah Umar bin Abdil Aziz pernah mengirim para amil untuk mengajarkan agama kepada masyarakat pedalaman dan membagikan harta. Rabbah bin Hibban, amil di Madinah, berkata, “Tidak datang surat-surat kepada kami dari Umar kecuali untuk menghidupkan Sunnah, membagikan harta atau perkara yang baik. Beliau selalu menanyakan tentang keadaan semua kaum Muslim. Suatu hari datanglah sekelompok orang dari Madinah. Khalifah Umar bertanya kepada mereka, ‘Apa yang dilakukan oleh orang-orang miskin yang tinggal di daerah ini…, ini…’ Mereka berkata, ‘Amirul Mukminin, mereka telah dikayakan oleh Allah karena harta yang engkau berikan dari Baitul Mal.’”

Diceritakan ada sekelompok orang yang naik haji mengirim surat kepada Khalifah Umar agar Ia memerintahkan pegawainya untuk menutupi Baitul Haram sebagaimana dilakukan oleh pemimpin sebelumnya. Khalifah Umar lalu menulis surat jawaban kepada mereka, “Aku memandang lebih baik biaya untuk itu (menutupi Ka’bah) aku berikan untuk menutupi perut-perut yang lapar.”

Khalifah Umar selalu mengirim harta negara untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang miskin. Namun, harta tersebut dikembalikan lagi karena tidak ada yang mau menerimanya (karena sudah kaya). Khalifah Umar benar-benar telah menjadikan semua rakyatnya kaya. Pada masanya, pada cetakan uang pecahan terdapat tulisan: Amarallahu bil wafa wal ‘adl (Allah telah memerintahkan untuk menunaikan amanah dan berbuat adil).

Ibadahnya

Khalifah Umar bin Abdul Aziz memiliki sebuah peti yang berisi baju yang terbuat dari bulu dan rantai. Ia memiliki kamar khusus untuk shalat yang tidak dimasuki oleh orang lain. Jika telah datang waktu malam, ia membuka petinya dan memakai baju serta meletakan belenggu di lehernya. Ia terus-menerus bermunajat kepada Rabb-nya dan menangis hingga terbit fajar. Khalifah Umar biasa meningkatkan kesungguhannya setelah waktu isya paling akhir sebelum witir. Jika telah witir ia tidak berbicara dengan siapapun. Ia selalu berpuasa Senin-Kamis, sepuluh pertama bulan Dzulhijjah, Hari Asyura dan Hari Arafah. Ia selalu membaca mushaf al-Quran setiap hari.

Menangis dan Takut kepada Allah SWT

Suatu hari ada seorang lelaki bernama Ibnu al-Ahtam menemui Umar bin Abdul Aziz. Ia terus-menerus menasihatinya hingga Umar pun jatuh pingsan. Jika beliau membaca al-Quran, beliau pasti menangis. Diriwayatkan bahwa suatu hari Umar menangis dan bersamanya ada Fathimah. Lalu menangis pula penghuni rumah. Masing-masing dari mereka tidak mengetahui mengapa yang lain menangis. Kemudian Fathimah bertanya, “Amirul Mukminin, mengapa engkau menangis?” Beliau menjawab, Fathimah, aku teringat akan perginya manusia kelak pada Hari Kiamat di hadapan Allah. Segolongan pergi ke surga dan segolongan lagi ke neraka.” Kemudian Umar berteriak dan pingsan.

Setiap malam Khalifah Umar selalu mengumpulkan para fukaha. Mereka lalu mengingatkan akan kematian dan Hari Kiamat. Kemudian mereka menangis, seolah-olah di antara mereka ada jenazah. Jika Umar ingat mati maka ia akan bergetar seperti menggigilnya burung yang kedinginan. Ia menangis hingga air matanya berlinang membasahi janggutnya.

Wasiatnya kepada Anak-anaknya

Saat Umar bin Abdil Aziz akan wafat, datanglah sepupu dan mertuanya, Maslamah bin Abdil Malik. Ia berkata, “Amirul Mukminin, sungguh engkau telah memutuskan mulut anakmu dari harta ini. Engkau telah meninggalkan mereka dalam keadaan miskin. Karena itu, harus ada sesuatu yang bisa memperbaiki kehidupan mereka. Jika engkau berwasiat untuk mereka kepadaku atau kepada keluargamu, niscaya aku akan menjamin biaya mereka, insya Allah.” Umar berkata, “Dudukkanlah aku.” Mereka pun mendudukkan beliau. Khalifah Umar lalu berkata, “Segala pujian hanya milik Allah. Apakah karena Allah Anda menakut-nakutiku, wahai Maslamah. Adapun yang engkau katakan bahwa aku telah menghalangi mulut anak-anakku dari harta dan aku telah meninggalkan mereka dalam keadaan miskin, maka sungguh aku tidak menghalangi hak mereka dan aku tidak memberikan kepada mereka sesuatu yang bukan haknya. Adapun permintaanmu agar aku berwasiat kepadamu atau keluargaku maka wasiatku untuk keluargaku adalah Allah yang telah menurunkan al-Quran. Dialah yang akan mengasihi orang-orang yang salih. Keturunan Umar hanyalah dua golongan. Pertama, yang bertakwa kepada Allah. Kepada mereka Allah akan memberikan kemudahan dalam segala urusan dan akan memberi mereka rezeki dari yang tidak terduga. Kedua, yang terbenam dalam kemaksiatan. Aku tidak akan menjadi orang pertama yang mendukung mereka dengan harta untuk maksiat kepada Allah.”

Kemudian Umar minta agar anak-anaknya dipanggil. Lalu datanglah sekitar sepuluh orang anak laki-laki. Beliau kemudian mulai memberikan nasihat, “Anak-anakku, Ayah cenderung pada salah satu di antara dua, yaitu: kalian menjadi orang kaya dan Ayah kalian masuk neraka atau kalian menjadi fakir dan Ayah kalian masuk surga. Jika kalian fakir dan Ayah masuk surga, itu lebih Ayah cintai daripada kalian kaya sementara Ayah masuk neraka…” []

Haram Berdiam Diri Dari Menegakkan Khilafah Dengan Alasan Menunggu Imam Mahdi

Dalam kitab “Masâil Fiqhiyyah Mukhtârah”, cetakan kedua (2008), karya Syaikh Abu Iyas Mahmud Abdul Lathif bin Mahmud (Uwaidhah), terdapat jawaban atas pertanyaan seputar Imam Mahdi dan aktivitas untuk menegakkan Khilafah. Mengingat pentingnya masalah ini, maka tulisan ini kami persembahkan kepada para pengunjung situs agar semua dapat mengambil faedah darinya, in sya’ Allah, jika Allah SWT berkehendak.

Pertanyaannya: Tidak sedikit di antara kaum Muslim—khususnya mereka yang masih kental dengan kehidupan beragama—yang menyakini bahwa Khilafah akan kembali tegak. Dan Khilafah yang akan tegak kembali itu adalah Khilafah ‘ala minhaji an-nubuwah, Khilafah yang sesuai dengan metode kenabian, yang mereka maksudkan dengan itu adalah Khilafah Rasyidah. Namun, aku tidak melihat mereka itu melakukan aktivitas untuk menegakkan Khilafah ini. Apabila mereka ditanya tentang alasan mengapa mereka berdiam diri (tidak melakukan) aktivitas menegakkan Khilafah, maka mereka menjawab bahwa Imam Mahdi-lah kelak yang akan menegakkannya. Dan sebelum datangnya Imam Mahdi, Khilafah tidak akan pernah tegak. Oleh karena itu, tidak perlu menyeru mereka untuk beraktivitas menegakkan Khilafah. Sehingga, pertanyaannya: Apakah Khilafah akan tegak secara nyata; dan apakah Imam Mahdi yang akan menegakkannya?

Jawab: Sesungguhnya pernyataan bahwa Khilafah akan tegak adalah pernyataan yang benar, yang ditunjukkan oleh banyak sekali hadits dari Nabi SAW, dan hadits-hadits itu semuanya shahih atau hasan. Mengingat, hadits-hadits itu tidak ada yang mutawatir, maka masalah ini tidak boleh dijadikan sebagai sebuah keyakinan. Sehingga, pernyataan bahwa kaum Muslim meyakini bahwa Khilafah akan tegak adalah pernyataan yang tidak benar. Sebab, keyakinan itu harus dibangun berdasarkan ayat Al-Qur’an atau hadits mutawatir. Sementara berdirinya Khilafah terdapat dalam hadits-hadits shahih dan hasan, bukan hadits mutawatir. Sehingga, tidak boleh menjadikan berdirinya kembali Khilafah sebagai sebuah keyakinan. Namun, kami membenarkan akan berdirinya kembali Khilafah dengan pembenaran yang tidak pasti; kami katakan bahwa Khilafah akan tegak kembali dengan izin Allah. Berikut ini hadits-hadits terkait masalah tersebut:

Pertama. Dari Sauban radhiyallahu ‘anhu berkata: Bersabda Rasulullah SAW:

إِنَّ اللهَ زَوَى لِي اْلأَرْضَ فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا وَإِنَّ أُمَّتِي سَيَبْلُغُ مُلْكُهَا مَا زُوِيَ لِي مِنْهَا

“Sesungguhnya Allah telah mengumpulkan (memperlihatkan) bumi kepadaku. Sehingga, aku melihat bumi mulai dari ujung Timur hingga ujung Barat. Dan umatku, kekuasaannya akan meliputi bumi yang telah dikumpulkan (diperlihatkan) kepadaku….” (HR. Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi)

Sabda beliau, “umatku, kekuasaannya akan meliputi bumi yang telah dikumpulkan (diperlihatkan) kepadaku” belum terrealisasikan hingga sekarang. Sebab, kaum Muslim belum pernah menguasai bumi mulai ujung Timur hingga ujung Barat hingga sekarang. Dan ini akan terjadi di masa yang akan datang. Sehingga ini menjadi isyarat akan berdirinya negara bagi kaum Muslim yang akan menaklukkan bumi mulai dari ujung Timur bumi hingga ujung Baratnya.

Kedua. Dari Ibnu Umar radhiyallahu ’anhu berkata: Aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

”Jika kalian telah berjual-beli dengan cara ’înah (penjualan secara kredit dengan tambahan harga); dan kalian telah mengambil ekor sapi, lalu kalian (lebih) suka bertani, hingga kalian meninggalkan jihad, maka (ketika itu) Allah menimpakan kepada kalian kehinaan, Allah tidak akan mecabutnya sampai kalian kembali ke agama kalian.” (HR. Abu Dawud)

Sabda beliau, ”sampai kalian kembali ke agama kalian” artinya adalah sampai kalian kembali melaksanakan ajaran agama, dan menerapkannya untuk semua urusan kehidupan kalian. Dengan demikian, hadits ini merupakan bisyârah (kabar gembira) dari Rasulullah SAW bahwa kaum Muslim akan kembali lagi menerapkan agamanya secara kâffah, menyeluruh, setelah sebelumnya mereka meninggalkannya.

Ketiga. Dari Abu Qabil yang berkata: Kami berada di sisi Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu ’anhu. Lalu, ia ditanya tentang manakah di antara dua kota yang akan ditaklukkan pertama, Konstantinopel atau Roma. Kemudian ia mengambil kotak yang ada hiasannya, ia mengeluarkan surat dari katak tersebut, ia berkata: Abdullah Berkata, ”Pada saat kami sedang menulis di sisi Rasulullah SAW, tiba-tiba Rasulullah SAW ditanya, manakah di antara dua kota yang akan ditaklukkan pertama, Konstantinopel atau Roma. Rasulullah SAW bersabda:

مَدِينَةُ هِرَقْلَ تُفْتَحُ أَوَّلاً يَعْنِي قُسْطَنْطِينِيَّةَ

”Kota Heraklius yang akan ditaklukkan pertama—yakni Konstantinopel.” (HR. Ahmad)

Ketika Rasulullah SAW ditanya tentang penaklukkan dua kota, Konstantinopel dan Rumiyah—yaitu Roma ibu kota Italia—beliau tidak menafikan (membantah) penaklukkan Roma. Namun beliau hanya mengatakan bahwa Konstantinopel akan ditaklukkan pertama. Ini menunjukkan bahwa Roma akan ditaklukkan setelahnya. Sementara hingga saat ini, Roma belum ditaklukkan oleh kaum Muslim. Dengan demikian, hadits ini merupakan bisyârah (kabar gembira), bahwa kaum Muslim akan menaklukkan ibu kota Italia tersebut. Dan tidak terbayangkan bahwa kaum Muslim akan menaklukkannya sebelum kembalinya Khilafah yang menghidupkan kembali jihad di jalan Allah dan penaklukkan kota (melakukan futuhat).

Keempat. Dari Nu’man bin Basyir, dari Hudzaifah radhiyallahu ’anhu berkata: Rasulullah SAW bersabda:

تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ

“Akan ada fase kenabian di tengah-tengah kalian. Dengan kehendak Allah, ia akan tetap ada, kemudian Dia akan mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Kemudian akan ada fase Khilafah berdasarkan metode kenabian. Dengan kehendak Allah, ia akan tetap ada, kemudian Dia akan mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Kemudia akan ada fase penguasa yang zalim. Dengan kehendak Allah, ia akan tetap ada, kemudian Dia akan mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Lalu akan ada fase penguasa diktator. Dengan kehendak Allah, ia akan tetap ada, kemudian Dia akan mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Selanjutnya akan datang kembali Khilafah berdasarkan metode kenabian. Kemudian belia SAW diam.” (HR. Ahmad dan Ath-Thabarani)

Hadits ini menjelaskan bahwa Khilafah akan tegak kembali setelah fase penguasa yang zalim (mulkan ’adhan), dan fase penguasa diktator (mulkan jabariyan). Dan Khilafah yang akan tegak itu adalah Khilafah ‘ala minhaji an-nubuwah, Khilafah yang sesuai dengan metode kenabian, yakni Khilafah yang menilai dirinya seperti Khilafah pada masa Khulafaur Rasyidin. Sehingga dengan izin Allah, Khilafah yang akan tegak adalah Khilafah Rasyidah. Inilah jawaban untuk pertanyaan masalah pertama. Sedangkan jawaban untuk pertanyaan masalah kedua adalah sebagai berikut:

Sesungguhnya, sekalipun hadits-hadits an-nabawiyah asy-syarîfah menyebutkan bahwa Al-Mahdi akan menegakkan Khilafah, maka hal ini tidak menunjukkan bahwa kaum Muslim wajin menunggu Al-Mahdi sampai Al-Mahdi mendirikan Khilafah untuk mereka. Apa yang diwajibkan atas mereka tetap wajib, yaitu menegakkan Khilafah. Menegakkan Khilafah di samping wajib atas Al-Mahdi, wajib pula atas kaum Muslim selain dia. Sehingga, mereka yang masih kental dengan kehidupan beragama, seperti yang digambarkannya, tidak punya hujjah (alasan) yang dapat mereka jadikan dasar untuk berdiam diri, tidak beraktivitas untuk menegakkan Khilafah, hanya dengan mengajukan pernyataan bahwa Al-Mahdi yang akan menegakkan Khilafah, sebagaimana hal itu tampak dengan jelas. Oleh karena itu, mereka yang masih beragama, namun berdiam diri, tidak beraktivitas menegakkan Khilafah, maka mereka berdosa, akibat sikapnya yang berdiam diri, tidak berbuat apa-apa, dan Allah juga akan meminta pertanggungjawaban mereka atas sikap diamnya ini. Konsekwensinya, jika mereka mati sebelum tegaknya Khilafah, maka ia mati seperti matinya kaum jahiliyah (mati dalam keadaan berdosa). Sebab, ada riwayat dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ’anhu yang berkata: Aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ لَقِيَ اللَّهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا حُجَّةَ لَهُ وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

“Siapa saja yang melepaskan ketaatan, maka ia akan bertemu Allah pada hari kiamat tanpa memiliki hujjah. Dan siapa saja yang meninggal sedang di pundaknya tidak ada baiat, maka ia mati seperti mati jahiliyah (dalam keadaan berdosa).” (HR. Muslim).

Sementara itu, orang yang selamat dari mati jahiliyah adalah orang-orang yang beraktivitas menegakkan Khilafah. Oleh karena itu, wahai orang-orang yang masih beragama waspadalah agar jangan sampai kalian mati jahiliyah, yang tentu kalian tidak menginginkannya. Ini yang pertama.

Kedua, sesungguhnya hadits-hadits an-nabawiyah asy-syarîfah tidak secara mutlak menyebutkan bahwa Al-Mahdi yang akan menegakkan Khilafah, karena banyak sekali hadits yang meriwayatkannya. Sedangkan, masing-masing hadits yang disebutkan semuanya menunjukkan bahwa Al-Mahdi adalah seorang Khalifah yang baik dan memerintah dengan adil. Misalnya sabda Rasulullah SAW:

الْمَهْدِيُّ مِنِّي أَجْلَى الْجَبْهَةِ أَقْنَى اْلأَنْفِ يَمَْلأُ اْلأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلاً كَمَا مُلِئَتْ جَوْرًا وَظُلْمًا يَمْلِكُ سَبْعَ سِنِينَ

“Al-Mahdi itu dari keturunanku, wajahnya tampan, dan hidungnya mancung. Ia akan memenuhi bumi dengan kebaikan dan keadilan. Dimana sebelumnya, bumi dipenuhi dengan kekejaman dan ketidak adilan. Dan ia berkuasa selama tujuh tahun.” (HR. Abu Dawud)

Sehingga, dalam hal ini, nama nash yang mereka jadikan dalil bahwa Al-Mahdi yang akan menegakkan Khilafah? Justru kami memiliki nash yang menolak pemahaman bahwa Al-Mahdi yang akan menegakkan Khilafah. Dan nash ini menjelaskan bahwa Al-Mahdi akan menjadi Khalifah setelah meninggalnya Khalifah sebelumnya. Sehingga, ini menegaskan bahwa Khilafah akan tegak sebelum Al-Mahdi menjadi Khalifah. Al-Mahdi adalah Khalifah yang menggantikan Khalifah sebelumnya dalam daulah Khilafah Rasyidah yang—tidak lama lagi—akan datang (berdiri) dengan izin Allah. Sekali lagi, ini menegaskan bahwa Al-Mahdi bukan orang yang menegakkan Khilafah. Dengan begitu, gugurlah hujjah (alasan) mereka untuk berdiam diri, tidak beraktivitas, dan hanya menunggu Al-Mahdi, yang menurut klaim mereka bahwa Al-Mahdi inilah yang akan menegakkan Khilafah untuk mereka.

Diriwayatkan bahwa Ummu Salamah radhiyallahu ’anha berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda:

يَكُونُ اخْتِلافٌ عِنْدَ مَوْتِ خَلِيْفَةٍ فَيَخْرُجُ رَجُلٌ مِنْ بَنِي هَاشِمٍ فَيٌّاتِي مَكَّةَ، فَيَسْتَخْرِجُهُ النَّاسُ مِنْ بَيْتِهِ بَيْنَ الرُّكْنِ وَالمَقَامِ، فَيُجَهَّزُ إليهِ جَيْش مِنَ الشَّامِ حَتَّى إذَا كَانُوا بالبَيْدَاءِ خُسِفَ بِهِمْ، فَيَأتِيْهِ عَصَائِبُ العِرَاقِ وأبْدَالُ الشَّامِ: ويَنْشئا رَجُلٌ بالشَّامِ أَخْوالُهُ مِنْ كَلْبٍ، فَيُجَهَّزُ إليهِ جَيْش، فَيَهْزِمُهُمُ الله، فَتَكُونُ الدَّائِرَةُ عَلَيْهِمْ، فَذَلِكَ يَوْمُ كَلْبٍ، الخَائِبُ مَنْ خَابَ مِنْ غَنِيْمَةِ كَلْبٍ، فَيَسْتَفْتِحُ الكُنُوزَ، وَيَقْسِمُ أَلامْوَالَ وَيُلْقِي إلاسْلاَمُ بِجَرَانِهِ ِإلى أَلارْضِ، فَيَعِيْشُونَ بِذَلِكَ سَبْعَ سِنينَ أو قال: تِسْعَ.

“Terjadi perselisihan ketika meninggalnya seorang Khalifah. Kemudian, seorang dari Bani Hasyim (Al-Mahdi) keluar pergi ke Makkah. Masyarakat membawanya (Al-Mahdi) keluar rumah menuju antara ar-rukn (hajar aswad) dan al-maqâm (maqam Ibrahim ‘alaihissalam). Sementara, dari Syam telah disiapkan pasukan untuk menyerangnya, namun ketika mereka berada di al-Baida’ (sebuah tempat antara Makkah dan Madinah), mereka semua ditenggelamkan (oleh Allah). (Melihat karamahnya itu), beberapa kelompok dari Irak, dan para wali (Abdal) dari Syam mendatanginya (untuk berbaiat). Seseorang di Syam yang ibunya dari Bani Kalb, menyiapkan pasukan untuk menyerangnya, kemudian Allah-pun mengalahkan mereka, sehingga bencana pun menimpa mereka, maka hari itu merupakan hari kekalahan bagi Bani Kalb. Bahkan, orang yang menyesal adalah orang yang tidak berhasil mendapatkan ghanimah (harta rampasan perang) Bani Kalb. Kemudian, ia (Al-Mahdi) membuka berbagai harta simpanan, membagi-bagi harta, menyampaikan (mendakwahkan) Islam ke wilayah-wilayah sekitarnya. Masyarakat hidup bersama (Al-Mahdi) itu selama tujuh tahun, atau sembilan tahun.” (HR. Ath-Thabarani dalam Al-Ausath, Al-Haitsami menyebutnya dalam Majma’uz Zawâij, ia berkata “semuanya rawinya adalah para rawi yang shahih).

Hadits ini disepakati oleh para rawi hadits dan pensyarahnya bahwa Khalifah yang dimaksud dalam hadits ini adalah Al-Mahdi (Imam Mahdi). Hadits ini merupakan nash yang sharîh (gamblang) bahwa Khalifah (Imam Mahdi) ini datang menggantikan Khalifah sebelumnya, “Terjadi perselisihan ketika meninggalnya seorang Khalifah. Kemudian, seorang dari….” Dengan demikian, Imam Mahdi bukan orang yang akan menegakkan Khilafah, dan ia juga bukan Khalifah pertama dalam negara Khilafah Rasyidah—yang tidak lama lagi—akan tegak dengan izin Allah. Sehingga yang tersisa di depan setiap orang Muslim adalah kekhawatiran dan ketakutan dari mati jahiliyah, mati dalam keadaan berdosa. Oleh karena itu, tidak ada jalan lain, selain bangkit dengan penuh semangat beraktivitas untuk menegakkan kembali Khilafah, dan mengangkat seorang Khalifah. Wallahu a’lam bish-shawab.(www. http://www.al-aqsa.org)

Saturday, May 29, 2010

Koran Inggris Mempublikasikan Foto Pemerkosaan dan Pelecehan Seksual di Penjara Irak

Syabab.Com - Koran “Daily Telegraph” hari Kamis (28/5) mempublikasikan foto-foto penyiksaan dan pelecehan terhadap para tahanan Irak. Presiden Amerika, Barack Obama melarang foto-foto itu dipublikasikan. Foto-foto itu membuktikan adanya fakta-fakta pemerkosaan dan pelecehan seksual. Kejahatan Amerika Serikat dan sekutunya di negeri kaum Muslim telah nyata, tetapi kaum Muslim masih diam. Ini semakin menunjukkan kaum Muslim butuh Khilafah. Kantor berita “Reuters” melaporkan bahwa adegan tersebut merupakan bagian dari foto-foto yang terdapat dalam laporan yang dibuat pada tahun 2004 oleh Mayor Jenderal Amerika, Antonio Taguba tentang penyiksaan dan pelecehan terhadap para tawanan di penjara Abu Ghuraib.

Dalam laporannya, Taguba memasukkan dugaan adanya insiden pemerkosaan dan pelecehan seksual. Pada hari Rabu (27/5) koran “Daily Telegraph” mengkonfirmasikan sebuah file yang didalamnya termasuk foto-foto yang mendukung dugaan tersebut.

Taguba yang pensiun pada bulan Januari 2007 lalu mengatakan kepada koran tersebut: “Foto-foto itu memperlihatkan adegan-adegan penyiksaan, pelecehan, pemerkosaan, dan semua perilaku yang memalukan”.

Ia mengatakan bahwa ia sangat mendukung keputusan Obama untuk tidak mempublikasikan foto-foto tersebut. Namun sebelumnya Obama telah berjanji untuk mempublikasikan semua foto-foto yang terkait dengan fakta-fakta penyiksaan dan pelecehan di penjara Abu Ghuraib dan penjara-penjara yang lain, yang dijalankan oleh pasukan AS di Irak.

Taguba mengatakan: “Saya tidak tahu apa tujuan yang hendak dicapai dari dipublikasikannya foto-foto tersebut selain tujuan hukum. Dan konsekuensinya adalah sangat membahayakan bagi pasukan kami, padahal mereka adalah pelindung politik luar negeri kami, pada saat kami memerlukannya. Sementara pasukan Inggris sedang berusaha membangun keamanan di Afghanistan”.

Koran tersebut mengatakan bahwa setidaknya ada satu foto yang memperlihatkan seorang tentara AS sedang memperkosa tawanan perempuan, dan yang lain memperlihatkan seorang penerjemah laki-laki memperkosa tawanan laki-laki.

Koran itu juga mengatakan bahwa foto-foto yang lainnya memperlihatkan tentang adegan-adegan pemerkosaan dengan menggunakan sesuatu, seperti tongkat, kawat, dan tabung pipa. Foto-foto tersebut berkaitan dengan 400 kasus dugaan pelanggaran yang terjadi di penjara Abu Ghuraib, dan enam penjara lainnya, antara tahun 2001 hingga tahun 2005.

Demikianlah kebiadaban dan tingkahlaku hewani pasukan teroris Amerika Serikat di negeri bekas pusat peradaban Islam itu. Tapi, sayang dunia membungkam, termasuk para aktivis liberal tak ada yang mengecam sikap jahat Amerika. Berbeda halnya tentang syariah, para aktivis liberal senantiasa berada di barisan terdepan untuk mengecamnya. Sementara kejahatan nyata yang dilakukan oleh tuannya, diam seribu bahasa.

Di manakah para pelindung umat hari ini? Di manakah tentara-tentara kaum Muslim? Ke manakah mereka, ketika saudara mereka dihinakan? Ke manakah para penguasa negeri Muslim ketika saudara mereka dengan nyata dihinakan?

Kaum Muslim hanya membutuhkan satu kekuatan politik untuk mengembalikan kejayaan dan kewibawaan mereka. Khilafah Rasyidah yang kedua, insya Allah akan membebaskan negeri-negeri kaum Muslim yang saat ini sedang terjajah. Insya Allah, tidak akan lama lagi.